Batak

batak_show

Baru saja membaca blog Marcell Siahaan, mengenai betapa setelah menjalani proses multikultural (dengan Ayah Batak dan Ibu peranakan Surakarta, Ambon, Belanda, Cina), pada akhirnya dia tetap merasa bangga sebagai orang Batak, walau tidak pernah merasa benar-benar tulen sebagai orang Batak.

Seperti Marcell yang pernah merasa minder dengan Ke-Batak-annya karena pernah dicela sama sepupu-sepupunya, saya pun pernah merasa begitu. Saya pernah nggak suka dengan identitas saya sebagai Batak. Saya nggak suka dengan stereotipe orang-orang yang menyebut Batak itu galak, kasar, keras, banyakan sebagai supir bis atau angkot. Saya nggak suka. Saya malu. Waktu itu saya masih SD, di tengah mayoritas teman-teman bersuku Chinese. Saya nggak pernah mau pakai marga Tobing saya. Cukup tulis Naomi Ernawati Lestari, tampa embel-embel Tobing. Saya nggak pernah mau ngaku sebagai orang Batak kalau nggak terpaksa banget, misalnya formulir pendaftaran ulang yang mengharuskan saya mengisi kolom suku. Saya biarkan teman-teman mengira saya bersuku Chinese, karena memang mata saya sipit (dan entah kenapa banyak yang lebih mengira saya Chinese daripada Batak) dan saya mengambil keuntungan dari situ.

Saya ingat, pertama kalinya saya (terpaksa) mengaku sebagai orang Batak ketika kelas 6 SD. Teman saya seorang Batak, bermarga yang sama dengan saya. Dia selalu memakai marga di namanya. Hm, mungkin karena dia sebagai cowok yang memang seharusnya menulis marga. Teman-teman suka sekali mengolok-olok marganya. Tobing=Tolol Bingung; Tobing=Tebing; dsb. Dan nggak pernah ada yang pernah memanggil nama depannya (bahkan sampai sekarang) karena mereka lebih memilih memanggil marganya. Saya takut melihat itu. Takut mereka akan memanggil saya dengan Tobing, bukan dengan nama depan saya. Tapi dari teman saya itulah, saya belajar sedikit mengenai Batak. Dan saat itulah saya mulai bangga dengan teman saya itu karena untuk seumuran dia, dia lumayan tahu tentang Batak.

Ketika beranjak lebih besar lagi. Saya masuk sekolah negeri, di mana saya mulai bercampur baur dengan berbagai suku dan agama. Saya mulai bisa membuka identitas diri saya sebagai Batak. Mulai menerima bahwa (mau nggak mau) saya memang Batak. Sebagai orang Batak, saya merasa kurang Batak. Saya nggak tegas, nggak langsung ngomong kalau nggak suka, nggak langsung to the point, nggak suka duren, nggak suka sangsang, ayam gota, dan teman-temannya itu, nggak bisa berbahasa Batak (walau bisa mengerti ketika orang berbicara bahas Batak alias Batak pasif), nggak berusaha mempergunakan istilah-istilah Batak dalam percakapan, nggak suka pergi ke gereja Batak juga. ketidakBatakan saya itu tidak membuat saya tidak mencintai kampung halaman saya. Saya jatuh cinta dengan kampung halaman saya, dengan Danau Toba, dengan Tarutung, denan Air Soda, dengan permandian air panasnya, dan dengan orang-orangnya. Tentu saja saya akan kembali ke sana suatu saat nanti. Memperkenalkan pada anak-anak saya tentang tanah leluhurnya.

Sebagai orang Batak yang nggak terlalu Batak-Batak banget karena sudah besar di Jakarta, saya tetap merasa kultur Batak itu tetap ada. Dengan semua tipikal orang Batak yang ada. Beberapa ini di antaranya (couldn’t agree more with Marcell):

  • Masih merasa suka dicampuri masalahnya atas nama kesukuan. Ada bedanya antara perhatian dan ikut campur. Tapi saya lebih merasa dicampuri. Merasa terkaget-kaget ketika semua orang mulai sibuk dengan urusan saya dan merasa gerah karena saya nggak minta mereka masuk ke dalam area kehidupan saya yang itu. Seringkali, saya bahkan tidak kenal siapa mereka.
  • Masih dibesarkan dalam lingkungan Batak yang merasa dirinya, adatnya, keyakinannya adalah yang paling benar. Sehingga menganggap yang lain tidak lebih baik dari sukunya. Saya nggak pernah bisa mengerti sampai detik ini, kenapa harus merasa sukunya lebih hebat daripada suku lain. Sementara saya merasa semua suku sama hebatnya. Dan nggak pernah ada yang diciptakan lebih tinggi daripada yang lainnya. Masih suka merasa kesal, karena gara-gara hal ini saya suka mendengar orang Batak mengagung-agungkan sukunya berlebihan.
  • Masih hidup di tengah keluarga yang menuntut anaknya berpasangan dengan orang Batak juga. Masih terdengar kata-kata sebagai anak yang nggak penurut, nggak mau membahagiakan orang tua, nggak mau memberikan contoh yang baik kepada adik-adiknya karena mempunyai pendapat yang berbeda dengan pasangan Batak ini. Karena menurut saya, bukan cuma suku yang mengindikasikan suatu pernikahan itu akan berhasil atau nggak. Tapi ada banyak faktor lainnya yang saling terkait satu sama lain. Walaupun, mereka benar bahwa satu suku akan mempermudah proses adaptasi. Dan saya bisa mengerti, bahwa ada satu kedudukan yang dipandang ketika tidak ada anak-anaknya yang keluar ‘jalur’, ada satu kebanggaan di mana bisa berada di suatu sistem dan bisa berdiri tegap ketika menghadiri pesta-pesta Batak, ada berkurangnya ketakutan karena sistem ikatan persaudaraan yang kuat itu yang membuat sepasang suami-istri akan berpikir sejuta kali sebelum bercerai.
  • Ya, pernah juga dikenal-kenalkan dengan cowok Batak yang katanya pintar, baik hati, dan mapan. Dan tidak memandang dia suku Batak, Jawa, Manado, Sunda, Ambon, atau apalah, saya tidak suka dijodoh-jodohkan seperti itu.
  • Dan masih suka merasa bersalah karena ternyata punya pendapat sendiri yang jauuuuuh berbeda dengan orang tua. Sense of Batak saya entah tersembunyi di mana, saya tidak tahu.
  • Masih suka dibanding-bandingkan dengan orang Batak lain yang lebih sukses. I’ve been there before. Rasanya mau menghilang, mau menangis, mau tidak ada saja.

Saya merasa keluarga saya adalah Batak yang modern karena walaupun terkadang muncul ciri-ciri di atas, tapi saya dibebaskan untuk merasakan yang berbeda. Orang tua saya cukup terbuka, cukup open minded (somehow), dan kalau mereka masih menerapkan ciri-ciri Batak di atas, saya tidak bisa menyalahkannya karena mereka juga dididik dengan didikan seperti itu. Dan sekarang saya hanya menganggapnya sebagai seni hidup di kultur Batak.

Dan atas ketidakBatakan saya, akhir-akhir ini saya mulai berteman dengan banyak orang Batak. Mulai mengerti sense Batak. Mulai tertawa dengan istilah-istilah Batak. Mulai pergi ke gereja Batak. Mulai nyaman berada di lingkungan Batak. Mulai nyaman berada di dalamnya. Walaupun masih banyak yang tidak saya suka seperti yang saya sebutkan di atas; walaupun masih tidak menganggap suku saya lebih daripada suku yang lain; walaupun masih berargumen tiap kali ada yang mencela pasangan Batak dengan yang tidak Batak. Tapi saya bangga jadi orang Batak. Saya bangga dilahirkan dalam keluarga Batak. Saya bangga bisa mengenal tradisi Batak. Saya bangga bisa mengerti ketika orang berbicara bahasa Batak. Dan saya bangga memasang marga Tobing di belakang nama saya sekarang.

Horas!

3 thoughts on “Batak

  1. Naomi…proud be BATAK….itu aja..jangan ambil yang negatif2nya..cobalah ambil yang positif2nya…semua suku2 pasti punya kekurangan dan kebaikan..dan dengan kau bangga dan percaya dengan kebatakanmu maka engkau bangga dan percaya pada dirimu sendiri..itu aja…God LOVE u

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s