.Diam.

Beberapa hari ini hidup saya terasa bagai roller coaster. Naik turun begitu cepat sampai membuat saya mual tak terhingga. Begitu cepatnya sampai saya hanya terdiam, berusaha mengetahui apa yang sedang terjadi di hadapan saya.

Ketakutan, kesendirian, keresahan. Semua muncul menjadi satu. Untuk pertama kalinya saya keluar dari comfort zone saya. Berusaha berjalan di tempat yang belum pernah dipijak. Menakutkan.

Tapi entah kenapa jauh di dalam sana, saya tahu ini yang harus saya ambil. Saya tahu saya harus kembali ke dasar lagi. Kembali ke yang punya kehidupan. Kembali ke titik nol. Kembali pasrah.

Betapa mengejutkannya bahwa saya perlu ditampar dengan keras dulu baru mau duduk diam lagi. Mau mendengar lagi. Mau berserah lagi.

Mungkin Dia sudah bosan dengan kata-kata manis. Sudah lelah memanggil dengan senyum. Sudah malas bicara dengan hati nurani. Saya memang harus dipukul, dijewer, ditampar baru bisa diam.

Dan saat ini saya berhenti di jalan ini. Membiarkan semua hal berlalu lalang di depan mata. Semuanya, kecuali saya. Kali ini Dia membiarkan saya menarik napas panjang, beristirahat sejenak dari seluruh keributan itu, dan menjadi pengamat saja.

Saya melepas semuanya. Kali ini biar Dia yang pegang. Biar dia yang mengurus. Saya cuma tinggal berdiri di belakang. Tidak perlu sok tahu lagi. Tidak perlu merasa paling pintar lagi. Karena saya memang tidak tahu apa-apa dan tidak pintar sama sekali.

Jadi kali ini saya berdiam diri saja…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s