Percakapan Dengan Hati

heart

Februari 18, 2006
Di sebuah kamar sendirian ditemani suara hujan.

Air mata menemaninya lagi malam ini. Air mata tahu banyak tentang kepedihannya. Tetes-tetes air mata yang membantunya melepas semua rasa kesendiriannya.

Ia tahu sangat bodoh menangis untuk kesekian kalinya, di saat ia mengira dirinya cukup kuat untuk melangkah. Malam ini ia merasa Hatinya mulai gelisah. Hati tak bisa berdiam diri lagi. Dan didengarnyalah Hatinya berbicara.

Hati : ”Kamu nangis lagi?”

Ia terdiam. Hati tak perlu jawabannya. Hati bisa melihatnya.

Hati : ”Kamu tahu hari ini aku terluka lagi.”

Ia mengangguk. Ia memang menangis karena Hatinya terluka lagi. Sudah banyak goresan luka yang dimiliki Hati. Luka itu tak pernah menghilang, tetap di sana dan membekas. Dan hari ini ia membiarkan Hati menambah goresan lukanya.

Hati : ”Kamu tahu ketika luka itu bertambah lagi sementara luka-luka lainnya belum menghilang, rasanya sakit sekali. Tapi aku bisa nahan semua rasa sakit itu, walaupun nggak enak banget. Yang nggak bisa aku tahan adalah ketika melihat kamu menangis seperti ini.”
Ia : ”Maafin aku. Hati, aku udah berusaha supaya kamu nggak terluka lagi. Tapi aku nggak bisa. Sekali lagi aku ngebiarin kamu terluka. Aku juga ngerasain apa yang kamu rasain. Ketika kamu terluka, aku juga ikut terluka. Rasanya dadaku sampai sesak karena menahan semua rasa sakit itu.”
Hati : ”Kalau gitu jangan ngebiarin seorangpun nyakitin kamu, dong.”

Ia tidak menjawab. Itu yang diinginkannya. Tapi berkali-kali ia berusaha, berkali-kali pula ia gagal untuk menjaga hatinya.

Hati : ”Kenapa sih kamu nggak ngebiarin orang lain tahu kalau kamu terluka, kalau kamu lagi sedih? Kenapa kamu selalu berusaha nunjukin ke dunia kalau kamu baik-baik aja, kalau kamu nggak kenapa-kenapa? Padahal kamu tahu bahwa aku dan kamu sama-sama sedang terluka. Kamu pikir air mata bisa menemani kamu selamanya? Kamu pikir dia bisa menyembuhkan semua luka-lukaku?”

Ia terdiam. Ketika ia keluar dari kamarnya, ia bersembunyi di balik topeng. Dunia mungkin melihatnya baik-baik saja. Semua berpikir ia tak punya masalah. Tak ada yang perlu dikhawatirkan darinya. Ia selalu berjalan dengan tegap, penuh senyuman, menyembunyikan kesedihan dan semua lukanya di balik topeng yang dipakainya.

Ia : ”Aku capek menutupi semua luka itu,” katanya pelan sambil mengusap air matanya, ”Hati, aku nggak mau terluka lagi. Aku mau Hatiku kembali seperti dulu lagi, tanpa goresan luka.”
Hati : ”Aku juga maunya begitu. Tapi kamu nggak pernah membiarkan diri kamu untuk disembuhkan.”
Ia : ”Gimana caranya? Dia selalu datang setiap saat. Tak kenal waktu dan tempat. Bahkan tanpa seijinku, ia menguasai mimpi-mimpiku. Kenapa dia tak pernah membiarkanku sendirian dan tenang? Dia tahu cara yang paling tepat untuk melukaiku.”
Hati : ”Karena kamu tak pernah benar-benar membiarkannya pergi. Kamulah yang mengijinkannya melukaimu.”
Ia : ”Aku terlalu lemah untuk mengusirnya pergi. Karena dia kamu ikut terluka. Tapi Hati, kamu ingat nggak kalau kamu yang pertama kali membiarkannya masuk dan pada akhirnya dia mampu menyayat-nyayatmu, meninggalkan luka yang tak akan pernah bisa hilang.”
Hati : ”Aku memang yang pertama kali melihatnya. Tapi kamu yang membiarkannya masuk lebih jauh lagi di kehidupanmu dan akhirnya membuatmu terluka.”
Ia : ”Hati, aku selalu bertanya-tanya, pernah nggak dia tahu apa yang selama ini dia lakukan terhadapku? Pernah nggak dia tahu kalau dia selalu melukaiku, membiarkanku berteman dengan tetes air mata? Pernah nggak dia sadar kalau aku harus sering membiarkanmu terluka cuma supaya dia nggak terluka?”

Ia menggeleng. Semakin banyak tetes-tetes air mata yang menemaninya.

Ia : ”Dan untuk sekali saja dalam hidupku, aku ingin dia berhenti untuk melukaiku.”

Hati terdiam. Luka-luka di badannya berdenyut kesakitan. Hati tahu apa yang dirasakannya, karena ia merasakannya juga. Hati tahu bahwa ia sudah terlalu lelah untuk menahan semua luka itu. Dan apa yang diinginkannya juga diinginkan Hati. Hati tak ingin melihatnya menangis lagi sendirian, dan kemudian berpura-pura tegar di depan dunia.

Hati : ”Kamu tahu, kamu harusnya lebih bahagia dari ini.”

Ia terdiam, membisu. Kebahagiaan. Bisakah suatu saat ia berteman dengan kebahagiaan?

Ia : ”Aku nggak tahu caranya bahagia. Mungkin karena aku terlalu bodoh. Kamu benar, aku nggak pernah benar-benar membiarkannya pergi, karena aku terlalu takut untuk berjalan sendirian di dunia ini tanpanya.”
Hati : ”Sekarang saja dia hampir meninggalkanmu, kan?”

Ia tak perlu menjawab. Hati tahu jawabannya.

Ia : ”Kenapa dia tega melakukan semua itu dan membiarkan aku terluka? Kenapa dia mau meninggalkanku padahal dia tahu aku akan semakin rapuh tanpanya?”
Hati : ”Karena kamu akan belajar sesuatu dari semua rasa sakit dan luka itu. Bahwa kamu cukup kuat untuk berjalan tanpanya. Kadang-kadang kamu harus belajar untuk sedih dulu, supaya tahu rasanya bahagia. Dan kamu nggak perlu memaksakan senyuman kalau kamu lagi ingin menangis, kamu nggak perlu pura-pura baik-baik saja ketika kamu tahu kamu sedang tidak baik-baik saja.”
Ia : ”Hati, aku mau jagain kamu supaya nggak terluka lagi. Aku nggak mau kamu sakit lagi. Aku ingin Hatiku utuh, tanpa goresan apapun. Aku ingin kamu baik-baik saja.”
Hati : ”Aku nggak papa. Aku masih bisa nahan semua itu. Aku cuma nggak tahan kalau harus lihat kamu seperti ini. Aku nggak bisa ngebiarin kamu ditemani tetes-tetes air mata. Mereka bukan teman yang baik untuk kamu. Sudah cukup aku melihat kamu menyakiti diri kamu sendiri. Aku cuma pengen lihat kamu bahagia.”

Ia mengangguk, mengetahui bahwa Hatinya sayang padanya dan tak ingin ia menangis lagi. Dan harus ia akui bahwa walaupun air mata adalah teman yang baik ketika ia terluka dan sendirian, namun air mata bukan teman yang tepat untuk menemaninya menjalani hidup.

Pintu kamarnya diketuk. Ia terkesiap. Ia mengambil topeng yang berada tepat di sebelahnya. Ia berkata dalam hati, ”Hati, maafin aku. Aku harus pakai topeng ini lagi. Lain kali aku akan melepasnya”. Ia mengusir pergi setiap tetes air mata yang jatuh ke pipinya. Dan ketika ia memakai topengnya, yang terlihat di wajahnya adalah sebuah senyuman cantik. Ia keluar dari kamarnya dan bertemu dengan dunia.

Hati cuma bisa terdiam seperti biasanya. Hati akan selalu mengalah. Hati tahu, cuma satu orang yang bisa menyembuhkan luka hatinya dan membiarkannya bertemu dunia tanpa topeng. Dan sampai saat itu tiba, Hati akan selalu menemaninya dan merelakan dirinya untuk terluka… oleh goresan yang sama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s