.HappiNess.

Karena sebentar lagi mau ujian, jadi saya harus kembali membuka-buka buku psikologi yang lama. Lalu ada chapter yang membahas tentang emosi. Salah satunya adalah emosi bahagia. Seorang psikolog bernama Michael Fordyce pernah meneliti apa yang paling penting dalam hidup seseorang. Kebanyakan orang-orang menjawab yang terpenting adalah kebahagiaan. Nah, orang-orang kebanyakan merasa bahagia ketika mereka mampu mencapai impian atau tujuan hidupnya. Ketika ditanyakan seberapa puas mereka dengan hidupnya, maka kebanyakan orang akan membandingkan hidup mereka dengan orang-orang di sekitarnya. Kalau mereka bisa lebih baik daripada kebanyakan orang di sekitarnya, maka mereka akan merasa bahagia.

Tapi kalau nggak lebih baik daripada orang-orang di sekitarnya, maka mereka akan menajwab nggak bahagia. Setelah membaca ini, saya lalu berpikir betapa melelahkannya hidup kita ya karena selalu berusaha membandingkan diri kita dengan orang lain. Sadar atau nggak, kita memang hidup di dunia yang suka membanding-bandingkan. Dan saya pun terpengaruh. Kadang-kadang saya melakukan sesuatu bukan karena saya mau, tapi karena memang semua orang melakukannya.

Misalnya aja nih, saya merasa passion saya adalah menulis. And I always knew I wanted to be a writer. Lalu kemudian saya masuk ke dunia psikologi, which I never regret, karena sejak awal saya berpikir dengan belajar psikologi saya akan belajar banyak mengenai karakter manusia dan akan sangat membantu saya menciptakan tokoh-tokoh dalam karya saya nantinya. Tapi kemudian, ketika lulus dan dihadapkan dengan dunia nyata, jadilah saya kehilangan path saya. Saya mulai terpengaruh dengan lingkungan sekitar.

”Wah, si A udah kerja di perusahaan gede nih. Gajinya sekian juta. Gede banget!”

”Kalau kerja di bank kan banyak fasilitasnya. Enak lho.”

”Oh kalo kerja jadi ini bisa cepat kaya lho.

Akhirnya saya ikut ke sana-sini, melamar pekerjaan yang entah apa itu karena katanya lebih bagus, lebih gede gajinya, dan lebih keren dipandang orang. Lalu saya mulai membayangkan ketika teman-teman saya udah jadi kaya, bisa beli ini-itu, menempati posisi yang keren, eh saya malah jadi ibu rumah tangga, kere pula. And it’ll become a big deal for me.

Kalah dari orang-orang di sekitar ternyata membuat saya nggak bahagia. Well, ternyata saya sama seperti orang-orang kebanyakan. Baru-baru ini saya menyadari bahwa sangat melelahkan harus selalu membandingkan diri dengan orang lain, dan itu dilakukan untuk mencapai hal yang bukan saya suka. Kenapa ya sangat susah untuk tutup telinga terhadap suara-suara sekitar dan dengerin kata hati aja? Kenapa ya nggak bisa bahagia dengan hanya menjadi diri sendiri? Walaupun seberapa kerasnya saya mencoba untuk menjadi cuek dan pura-pura nggak peduli dengan keadaan sekitar, tapi ternyata malah semakin besar saya membandingkan hidup saya dengan orang lain. Dan hal ini sudah membuat saya mencapai taraf lelah. Lelah untuk melihat orang lain selalu lebih dari saya, lelah untuk mencapai cita-cita yang bukan keinginan saya, dan lelah untuk selalu dibandingkan terus-menerus.

Sebenarnya, kalau mau dilihat-lihat, saya nggak perlu mengeluhkan apa-apa lagi, sih. I almost have everything. Tapi kalau udah ada di tengah-tengah orang, segalanya yang saya miliki itu ternyata nggak ada apa-apanya dibandingkan orang lain. Menyebalkannya lagi, saya PEDULI dengan hal itu. Kalau ada yang paling saya pengenin dari hati yang paling dalam, saya pengen bisa bahagia tanpa harus membandingkan diri saya dengan siapapun juga. Can I?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s