.CacHa.

Saya suka banget ngomongin seleb. Yah, mirip kelakuan para ibu-ibu juga, sih. Tapi kisah mereka emang menggiurkan, sih.

Jadi suatu hari waktu lagi menunggu Debora bareng seorang teman, kita ngomongin artis-artis yang kuliah psikologi juga, such as Marshanda dan Dhini Aminarti. Marshanda sempat kuliah di Psikologi Atma Jaya, sedangkan si Dhini yang sempat enggak lulus ujian di UI, sekarang ngambil S2 si Universitas Tarumanegara.

Nah si teman ini, Melvi, bilang waktu itu dia nonton infotainment tentang Marshanda a.k.a Caca. Si Caca katanya pindah kuliah karena enggak suka sama statistik. Hm, membuat saya bertanya-tanya, bukannya di Komunikasi (jurusan Caca sekarang) ada statistik juga, ya? Soalnya teman yang mengambil omnkasi belajar statistik juga, sih.

So, karena penasaran yang sangat berlebihan dan enggak penting sebenarnya, saya googling tentang Caca yang pindah kuliah, dong. Dari semua berita, bisa dirangkum alasan Caca pindah kliah adalah:
1. Menurut Caca, kuliah psikologi itu enggak menarik karena statis dan teoritis.
2. Supaya lebih dekat sama VJ Ben-pacarnya- yang juga kuliah di UPH.

Sebagai orang yang pernah kuliah di Psikologi Atma Jaya dan sekarang lanjut lagi kuliah profesi psikologi (walaupun mau mati rasanya dengan tugas-tugas segudang), kayaknya saya engak pernah merasa kuliah psikolog itu statis, deh.

Gini, ya, Mbak Caca, situ kan baru kuliah 2 semester, yang saya tahu mata kuliahnya seperti Sejarah dan Aliran Psiklogi, Statistik, Aktualisasi Diri, Psikologi Umum, dsb. Waktu baru kuliah, saya juga ngerasa kok teori banget dan enggak langsung bisa baca orang, belajar alat tes, ketemu orang. Kok begini, ya?

Tapi karena saya dari awal udah niat banget mau jadi psikolg, jadi ikutin aja proses kuliahnya. Ternyata setelah itu semester berikutnya menyenangkan, kok. Banyak praktek, banyak ketemu orang, banyak pengalaman baru dan seru. Walaupun harus mati-matian ngerjain tugasnya yang segudang dan enggak kenal waktu, sampai nginep segala (which is tadinya saya sempat kagum sama si Caca yang bisa syuting sinetron stripping dan tetap bisa kuliah psikologi). Tapi sampai sekarang saya enggak pernah menyesal tuh kuliah psikologi karena saya dapat banyak hal secara teori maupun praktek.

Nah, mungkin Caca kurang sabar kali, ya. Bukan cuma psikologi, calon dokter aja harus belajar teori seabrek-abrek sebelum bisa praktek. Kalau mau jago prakteknya, ya harus paham dulu dong teorinya. Ca, enggak ada tuh yang namanya orang pintar tapi maunya instan.

Hm, sebel aja sih sebenernya sama Caca yang bilang psikologi itu statis dan teoritis (bo, semua ilmu itu pasti ada teorinya kalee) karena saya enggak tahu pernyataan itu dibuat sebagai defense mechanism dia aja (nyalahin kuliahnya), padahal dia yang enggak ngerti sama kuliahnya atau terlalu sibuk syuting jadi enggak bisa kepegang kuliah di psikologi yang emang terkenal dengan banyak tugasnya.

Jadi ya, Ca, kalau kamu enggak mau belakar buat sabar sampai akhir, nanti jangan-jangan pindah kuliah dari UPH karena alasan yang mirip-mirip, deh. Cuapeeeey dey! Enak banget jadi artis, bisa pindah-pindah kuliah seenaknya karena banyak uang.

Aaah sudahlah, yang penting si Caca masih mau kuliah. Daripada artis-artis yang males kuliah gara-gara udah puas jadi artis beken denga banyak uang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s