Surat Buat Sahabat

30 Hari Menulis Surat Cinta

14 Januari 2011

Dear Kamu,

Apa kabar? Kamu kangen aku? Aku kangen banget. Rasanya sudah lama kita nggak berbincang, ya. Aku inget, terakhir kita ngobrol panjang itu setahun lalu. Lalu teman-teman baru datang dan aku mulai menjauh. Kita masih sering ketemu, tapi jarang sekali berbincang. Seringkali pembicaraan kita hanya basa-basi, “Hai, apa kabar? Oh, aku juga baik. Aku duluan, ya. Udah ditunggu teman, nih. Bye!”. Sebelum berbalik pergi, aku masih bisa melihat kamu menghela napas panjang dan kecewa, tapi tetap kamu paksakan tersenyum dan membiarkanku berlalu. Kamu melihatku menggandeng teman-teman baru dan meninggalkanku sendirian.

Di saat-saat itu, tentu saja aku nggak akan lupa sama hari besarmu. Aku berdandan cantik dan membeli baju baru saat akan pergi ke acara ulang tahunmu. Acara ulang tahunmu itu selalu kunanti karena selalu meriah dan besar. Orang-orang selalu senang merayakan ulang tahunmu. Tapi aku tahu kamu sebenarnya nggak terlalu suka sama ulang tahunmu karena di antara sekian banyak orang yang merayakan ulang tahunmu, nggak ada yang benar-benar peduli sama kebahagianmu. Mereka datang, cipika-cipiki denganmu, memberi kado, lalu mereka sibuk sendiri dengan teman-temannya. Kamu ditinggalkan di depan ruangan sendirian. Dulu aku kesal sama orang-orang seperti itu. Tapi tampaknya sekarang aku yang melakukan hal itu. Aku menyapamu malam itu, berbasa-basi sedikit denganmu, lalu berkumpul dengan teman-teman baruku. Bahkan aku lebih semangat dengan acara after party nanti karena aku akan pergi dengan mereka. Sedangkan kamu mungkin akan sibuk membereskan sampah-sampah yang mereka tinggalkan di rumahmu dan sekali lagi ditinggalkan sendirian. Anehnya, kamu nggak pernah marah sama aku. Kamu tahu saat itu kamu cuma perlu memberiku waktu untuk pengalaman baru, yang sayangnya bukan dengan kamu.

Mendekati ulang tahunmu selanjutnya, kamu pasti masih ingat betapa keadaan menjadi sulit untukku. Teman-teman yang katanya akan selalu ada untukku ternyata mengecewakan. Mereka pura-pura tidak dengar di saat tengah malam aku menelepon untuk bercerita kesusahanku. Mereka bilang sibuk saat aku ingin meminjam bahu mereka untuk menangis. Dan mereka berlalu saat aku terjatuh di depan mereka. Lalu aku ingat kamu. Kamu nggak akan melakukan hal seperti itu. Tanpa aku minta pun, kamu akan segera mendatangi aku kalau aku kesusahan. Kali ini aku menangis sendirian. Aku ingat kamu. Aku ingat betapa bodohnya aku yang meninggalkanmu.

Jadi, ini aku sekarang. Berdiri di depanmu sambil menangis. Aku nggak berani menyapamu duluan. Aku malu. Tapi kamu berdiri di sana, melihatku dengan wajah khawatir. Kamu langsung berjalan segera ke arahku, memelukku saat itu juga. Aku bisa dengar kamu berbisik di telingaku, “Aku kangen kamu”. Air mataku jatuh semakin deras. Aku juga kangen banget sama kamu.

Aku menangis di bahumu. Aku bilang, aku nggak akan ninggalin kamu lagi. Kamu bilang, aku nggak perlu berjanji apa-apa karena nggak peduli aku pergi menjauh atau nggak, kamu akan selalu berada di tempat yang sama dan menungguku. Kamu memang sahabat yang baik. Sangat baik dan terlalu baik. Aku sayang kamu.

Jadi aku cuma pengen bilang, aku kangen kamu, Tuhan. Kangen sekali.

Peluk dan sayang selalu,

Sahabatmu yang sering bandel.

Naomi

 

 

 

About these ads

One thought on “Surat Buat Sahabat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s